ADAKAH RUMAH TERJANGKAU YANG BERKUALITAS? (Bagian 4)

Barangkali timbul pertanyaan mengapa rumah beton menjadi pilihan atau alternatif sebagai rumah murah dengan tetap menawarkan performa kualitas yang baik? Sebelumnya kita melihat beberapa pekerjaan rumah (sederhana) dibawah ini.

Gambar di atas adalah sebagian contoh rumah murah kita di Indonesia dengan dinding batako tanpa plester, atap asbes, tanpa plafon, tanpa keramik dengan harga paling ringan yang ditetapkan pemerintah. Asumsinya tanah dan fasum difasilitasi oleh pemerintah sehingga masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) menanggung biaya pembelian untuk bangunan saja senilai batas minimum ketetapan pemerintah. Sedangkan untuk biaya tambahan seperti plesteran dan lain lain, konsumen bisa meningkatkan kualitas secara mandiri atau dengan menambah biaya tertentu.

Jika dilihat proses pembangunannya, rumah murah di atas dibangun dengan konstruksi sebagai berikut,

Proses pembangunan dinding dan penyetelan kusen

Proses finishing bagian atas.

Proses pemasangan dinding bagian atas

Konstruksi dinding bagian dalam dengan menggunakan penulangan bambu.

Dari gambar di atas, proses efisiensi ditempuh dengan cara mengurangi kualitas atau spesifikasi bangunan. Semisal dinding batako yang harga per m2 nya lebih murah dari bata, dinding bagian dalam tebuat dari struktur kolom dan dinding bambu yang ditutup plesteran (penulangan bambu seperti ini sudah sering dilakukan sejak jaman dulu di negara negara tropis seperti jepang, ataupun cina). Pengurangan spesifikasi juga pada tidak adanya plafon, plesteran luar dan cat luar, serta keramik lantai. Sedangkan proses pengerjaan pada umumnya dilakukan dengan cara konvensional. Dinding batako dipasang satu persatu dan seterusnya oleh tenaga kerja, artinya biaya tenaga kerja tetap membutuhkan ketrampilan khusus untuk bisa membangun bangunan tersebut.

Dan apakah ada metode selain cara cara umum seperti itu? Pada umumnya metode yang digunakan adalaha bagiamana untuk bisa mengefisiensikan dinding rumah baik material maupun tenaga kerja, karena sebagian besar prosentase pekerjaan ada pada dinding (lihat tulisan bagian 1).

Ada beberapa metode yang bisa dipilih untuk membangun rumah (lihat menu FORMWORK METHODE pada web sikokoh.com). namun pendekatannya adalah dengan bagaimana  agar rumah dapat dicetak atau dipabrikasi dengan stanar standar yang telah ditetapkan. Sistem pabrikasi rumah dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :

  1. Metode dinding panel precast

Metode ini adalah dengan mencetak dinding panel baik dari beton ataupun dari bahan yang lain di sebuah pabrik setelah siap akan dibawa ke site/tapak dan dilaksanakan proses konstruksi.

  1. Metode dinding panel dan cast in situ

Proses ini adalah dengan mencetak panel dinding yang bisa berfungsi sebagai formwork nantinya di pabrik. Setelah proses panel dinding tersebut selesai, kemudian dibawa ke site/tapak untuk dipasang sebagai formwork (nantinya tidak akan dilepas) dan diisi bagian tengah nya dengan adukan dinding sesuai dengan rencana.

  1. Metode dinding cast in situ

Metode ini murni membuat hanya cetakan/formwork di pabrik. Sedangkan proses perangkaian dan pengisian dinding dilakukan di lapangan dengan menggunakan material terdekat yang ada dilapangan.

  1. Metode dinding panel knock down

Metode ini hampir sama dengan metode panel precast, hanya saja tidak terbatas pada dinding beton, bisa menggunakan panel panel kombinasi antara beton dan non beton seperti kayu atau besi.

Dari beberapa metode di atas, masing masing ada kelebihan dan kekurangannya. Metode diatas pada prinsipnya mengantisipasi agar dalam proses produksi rumah dapat mengefisiensikan dari waktu pemasangan, pengurangan limbah dalam proses produksi rumah, biaya lebih terprediksi dan lebih akurat, pemasangan lebih mudah untuk mengurangi biaya tenaga kerja, mempersingkat pekerjaan finishing yang dipandang membutuhkan waktu seperlima proses konstruksi.

Sikokoh memilih metode no 3 sebagai metode yang lebih efisien daripada metode yang lain untuk kasus pembangunan rumah murah hal tersebut karena metode tersebut dapat  menggunakan material setempat. Lalu bagaimanakah metode no 3 ini lebih efisien?

Bersambung….

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s