Kalau berhasil “potong leher saya”

Pada tanggal 13 februari 2014 yang lalu, atas kesepakatan bersama kami ada pertemuan dengan beberapa Dinas.Dengan Dinas BLH Mojokerto ( Bpk Sindung dan Bpk Amin ), Dinas Kesehatan Mojokerto ( Bpk Tanto ), Dinas PU Cipta Karya Mojokerto ( Bpk Tri Wahyudi ), Dinas Tenaga Kerja Mojokerto ( Bpk Zainul ). Tujuannya adalah memberi paparan tentang apakah dampak lingkungan yang akan timbul setelah ataupun dalam proses pembangunan Pilot Project Si kokoh ini.Kami Ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang menanggapi dengan baik cita – cita kami untuk memberikan kontribusi untuk negara ini yang telah memasuki krisis perumahan 15 Juta Unit ini.Seperti biasanya kami pasti akan menghadapi pro dan kontra dalam pengembangan cara – cara baru yang kami terlahir dari dasar tulus untuk membangun rumah dan lingkungan yang lebih baik, namun sebenarnya pertanyaan beliau – beliau ini sudah kami kaji dari tim kami sendiri bahkan kami juga mengundang para praktisi yang memang kompenten di bidangnya. Prinsip dasarnya Si kokoh lahir memang harus “keluar dari kotak”  kalo tidak kami akan terjebak dengan solusi yang sama saja.Bahkan di dalam pertemuan ada dari seseorang yang mengucapkan apabila sistem kami tidak akan berhasil, bahkan beliau berani mempertaruhkan kepalanya “ketokan gulu” (yang artinya potong leher saya).Maafkan bila memang tidak biasa, ini hanya kreatifitas kami saja. Dan kami lakukan semua ini hanya untuk menaikan harkat dan martabat MBR ( Masyarakat Berpenghasilan Rendah )

033 Paparan BLH 032 Paparan BLH 031 Paparan BLH

Advertisements

Mengapa kita tidak bisa?

Amerika Bisa Bikin Rumah Murah Berkualitas, Indonesia Kapan?

KOMPAS.com – Deretan rumah beratap pelana ini merupakan jawaban dari kemungkinan hadirnya hunian murah dengan kualitas istimewa. Sayangnya, rumah-rumah tersebut berada jauh dari Tanah Air, yaitu di Houston, Texas, Amerika Serikat.Rancangan rumah ini terinspirasi dari karya arsitek Hugh Newell Jacobsen. Bentuknya yang sederhana mampu menekan biaya bagi rangka dan tenaga kerja. Tak salah bila rumah-rumah ini seolah menjadi titik temu dari kesederhanaan dan kemewahan.

The Row, begitu sebutan bagi kesembilan rumah berwarna putih dan berjendela besar tersebut. Hunian ini berada di ujung utara Houston Heights, daerah yang penuh restoran, toko-toko, dan hanya berjarak 10 menit dari pusat kota.
The Row mengumpulkan investor dan pengembang untuk bergabung dalam proyek pembangunannya. Eksekutif perusahaan maskapai penerbangan serta lulusan Rice University dan Harvard Business School Holden Shannon, serta suami-istri pengembang, desainer, dan kontruksi Matthew dan Tina Ford membuat proyek ini menjadi kenyataan.Kebetulan, Matthew dan Tina Ford memiliki Shade House Development dan perusahaan konstruksi Esplanade Homes berbasis di Atlanta. Sementara, Shannon biasanya memegang proyek yang jauh lebih besar, seperti pengembangan Bandara Internasional JFK.

“Row di 25th merupakan sesuatu yang unik. Kesederhanaan desain, kegunaan ruang, semuanya cocok bagi proyek berharga menengah,” ujar Shanon. Lebih teknis lagi, Matthew Ford mengatakan, “Cangkang rumah memiliki bentuk yang sangat sederhana. Tidak ada lengkungan atau bagian menyilang. Ini membuat saya bisa menggunakan rangka solid namun murah.”
Shannon dan keluarga Fords berhasil menekan biaya hingga hanya perlu membayar sekitar 170 dollar AS atau Rp 2 juta per kaki persegi. Setiap rumah memiliki ukuran 176,5 m2 dan membutuhkan biaya 30.000 dollar AS atau Rp 362,2 juta.
Interiornya terasa lapang, ruang-ruang terasa mengalir, dan para penyewa rumah boleh menyesuaikan dengan kebutuhan mereka. Setiap rumah juga dibagi menjadi dua lantai. Lantai dasar berisi area pintu masuk, di bagian belakang terdapat dapur, ada pula ruang makan, dan kantor. Di lantai atas, setiap rumah memiliki kamar tidur utama yang menghadap jalan raya, kamar tidur lain, kamar mandi, dan ruang di tengah-tengah. Ruang tersebut bisa digunakan sebagai perpustakaan, kamar tidur tambahan, atau ruang penyimpanan.

Menariknya, Shannon sudah pernah merasakan tinggal di rumah tersebut. Dalam masa-masa percobaan, sebelum membuat banyak hunian, Shannon lebih dulu mempelajari dimensi ruang, pola masuknya cahaya, dan kenyamanan rumah.”Saya tidak ingin membangun sembilan rumah yang tidak pernah saya tinggali. Kami bermain dengan rumah-rumah seperti desainer bermain dengan media gambar CAD. Kami menambahkan jendela, memindahkan dinding depan, dan membesarkan jendela atap.” Shannon kemudian mempekerjakan desainer Barbara Hill untuk mendesain interiornya.

Berdasarkan kesaksian para penyewa rumah, mereka begitu puas dengan pengembangan rumah terjangkau ini. Kini, hanya satu rumah yang masih tersedia, itu pun hanya untuk disewakan. Setiap unit disewakan dengan harga2.850 dollar AS (Rp 34,4 juta) per bulan.